Minggu, 21 Oktober 2012

Sayembara Penataan Koridor Bhayangkara, Solo 2011





















1st Prize Winner Competition.

TIM SANDAL KULIT, are:

1. Yopie Herdiansyah
2. Tri Suryo Kuncoro
3. Dian Ariffianto Budi Susilo
4. M. Fauzan
5. Ambar Eko Hendratmo
6. Dwi Wahyu Paryanto
7. Dodi Aris Saputro
8. Anjar Primasetra
9. Gilbert Yohanes Voorman
10. Gambir Pramudo Asmoro

Juice Buah Nangka



1. Kalium dalam nangka efektif dalam mengurangi kemungkinan penyakit jantung karena bisa menurunkan tekanan darah.

2. Kandungan zat besi dalam buah yang berserat ini membantu mencegah anemia dan meningkatkan sirkulasi darah dalam tubuh.

3. Akar adalah obat yang baik bagi orang yang menderita asma. Merebus akar dan ekstrak nangka ternyata dapat membantu untuk mengontrol asma.

4. Salah satu manfaat kesehatan dari nangka adalah melindungi tiroid sehat. Mineral mikro dan tembaga dalam nangka juga efektif untuk metabolisme tiroid. Hal ini sangat baik untuk memproduksi hormon dan penyerapan.

5. Manfaat kesehatan dari nangka untuk tulang. Buah ini baik untuk anak-anak muda dalammenjaga kesehatan tulang. Nangka kaya akan magnesium yang memperkuat tulang dan mencegah tubuh dari gangguan tulang seperti osteoporosis.

6. Manfaat gizi dari nangka adalah sumber makanana yang kaya akan vitamin C dan A. Nutrisi anti-oksidan dalam nangka memperkuat sistem kekebalan tubuh dan melindungi dari infeksi bakteri dan virus.

7. Dengan phyto-nutrisi dan vitamin C, nangka memiliki sifat anti kanker dan anti-penuaan. Nutrisi ini bisa menjauhkan Anda dari bahaya kanker dan memperlambat degenerasi sel untuk mencegah tubuh dari penyakit degeneratif.

8. Gula alami seperti fruktosa dan sukrosa dalam buah nangka menjadikannya sebuah sumber energi. Nangka dapat meningkatkan energi dan tidak mengandung lemak jenuh atau kolesterol.

9. Nangka bisa menyembuhkan borok dan gangguan pencernaan. Buah berserat tinggi ini mencegah sembelit dan memperlancar gerakan usus.

10. Nangka juga bermanfaat untuk kesehatan mata dan kulit. Buah ini mengandung vitamin A yang memelihara kesehatan mata dan kelembutan kulit. Nangka juga mencegah gangguan mata seperti degenerasi makula dan rabun senja.

sumber teks:merdeka.com

Sabtu, 01 September 2012

[pasar] singosaren [plaza]



Pasar ini berdiri di sebuah wilayah yang dikenal dengan nama singosaren. secara toponimi merupakan daerah (dekat) tempat tinggalnya KPH. Singasari, putra dari Pakubuwono X di kampung kemlayan. Awalnya sebagai pasar tradisional, seiring perkembangan jaman pasar ini dimetamorfosa oleh pemda surakarta menjadi embrio pasar modern yang ada di kota surakarta dimana sebagian pedagang pasar (tradisional) singosaren dipindahkan ke pasar kadipolo.pasar singosaren kemudian dikenal dengan singosaren plaza. jauh sebelum banyak berdiri mall-mall dan hypermarket, singosaren plaza ini menjadi primadona warga solo, dengan bioskop studio theater, matahari dept.store dan tak lupa gerai eskrim tentrem.Singosaren Plaza cukup beruntung mendapat dukungan dari kawasan coyudan dengan gerai-gerai sepatu dan koridor gatot subroto dengan gerai tekstil dan fashion.

Celakanya, angin reformasi membawa dampak negatif terhadap sentimen sumbu pendek yang menjadi identitas di kota surakarta pada masa lalu. Singosaren plaza pada Mei 1998 adalah salah satu bangunan publik yang menjadi korban amuk massa-bakar membakar dan penjarahan. Kota Solo terus berbenah, Singosaren Plaza dibangun kembali dan keberadaannya sampai sekarang belum mampu tergantikan oleh kemunculan mall-mall baru dan hypermarket. Singosaren Plaza bagi saya adalah tujuan mencari telepon seluler dengan harga yang miring dan bersaing serta belanja celana jins terbaru. Singosaren Plaza adalah simbol kemajuan pengembangan pasar tradisional di solo yang terus menjadi memori kolektif bagi orang-orang yang tinggal dan pernah tinggal di praja Surakarta Hadiningrat. 

Tulisan dan gambar ini saya persembahkan untuk Bripka Dwi Data Subekti yang pada kamis malam 30 Agustus 2012 gugur dalam tugas menjaga keamanan di pos pengamanan (pasar) Singosaren Plaza

sumber foto:dari berbagai sumber.

Senin, 13 Agustus 2012

MUDIK


Posted by Picasa saatnya kita mudik

Maleman Sriwedari



Sesaat setelah Sinuhun Paku Buwono X naik tahta dan diminta pemerintah Belanda meneken perjanjian Verklaring 25 Maret 1893 dan Acte van Verband 30 Maret 1893, kekuatan politik raja melorot. Kemapanan kekuasaan raja yang baru saja diganjar gelar pahlawan nasional ini kian terusik akibat bergulir gagasan reorganisasi agraria di permulaan abad XX oleh pejabat kolonial.
Praktik ini berimbas tanah milik keraton sebagai alat pengukur luasnya kekuasaan petinggi kerajaan menyusut karena tanah dikelola oleh rakyat pedesaan (kelurahan). Intervensi toewan kulit putih makin menjadi-jadi. Sinuhun beserta kerabatnya bagai menelan empedu. Ruang negosiasi politik menyempit. Walhasil, tiada pilihan lain bagi raja kecuali unjuk kekuatan di ranah simbol dengan mempertimbangkan dunia Jawa berjalin kelindan dengan bermacam simbol.
Guna memancarkan kembali pengaruh hegemoni istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan memuluskan konsep manunggaling kawula-gusti, lantas Sunan Paku Buwono X yang doyan berdansa polonaise dan dijuluki Kaisar Jawa ini mengizinkan penyelenggaraan Maleman Sriwedari di Kebon Raja.
Sampai sekarang fakta sosial-kultural ini masih kuat membekas di sudut hati masyarakat dan kuat tertanam di dalam ingatan kolektif. Detik itu, selain menambah komplet suguhan di kompleks Taman Sriwedari, Maleman Sriwedari ditetapkan jadi acara tahunan dan primadona era itu.
Keramaian dan panorama Sriwedari dapat kita temukan dalam petilan fakta yang terekam di novel sejarah Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo. Pada suatu sore di Kota Solo, awan gemawan bersinar terang sehingga membuat masyarakat kota itu menjadi amat bahagia. Lebih-lebih pada malam-malam harinya di Sriwedari akan ada keramaian yang diselenggarakan Kerajaan Kasunanan (tanggal 25 Puasa). Sudah barang tentu, pada saat itu, di jalan-jalan banyak orang yang berpakaian bagus akan datang ke Sriwedari.
Kala itu, pelancong dari luar kota merasa kurang lengkap ketika berkunjung ke ”surganya Hindia Belanda” ini bila belum bermain ke ruang publik Taman Sriwedari. Maleman Sriwedari mendorong ruang Taman Sriwedari menjadi pusat budaya dengan pancaran sinar lampu sokle yang seakan lambaian tangan mengajak kawula dolan rame-rame ning Kebon Rojo.
Bahkan, komunitas Arab dan Tionghoa turut berkerumun menikmati tampilan wayang orang, bioskop, reog dan aneka hiburan lainnya. Terjadilah interaksi sosial lintas etnis dan lintas kelas. Para pengunjung makin terpuaskan dengan dijualnya suvenir dan makanan khas tradisional Jawa.
Ternyata strategi politik simbolis Paku Buwono X ampuh dan tak rapuh. Berjalan tanpa harus menimbulkan konflik kelas dan tak menerbitkan kecurigaan bule Belanda. Kebesaran raja tetap awet di mata rakyat hingga akhir hayat, walau realitasnya tergencet oleh politik kolonial.
Maleman Sriwedari benar-benar laksana ”surga” bagi masyarakat di level akar rumput. Pada masa itu wong cilik menjadi saksi ketegangan kota yang kemudian terpinggirkan oleh perubahan kota dengan berbagai fasilitas perkotaan seperti trem, listrik, schouwburg purbajan dan societiet harmonie.
Mereka yang bukan dari strata sosial tinggi itu tak sanggup menggapainya. Budaya kota ala Eropa telah memarginalkan penduduk pribumi berkantong tipis. Mau tak mau hiburan tradisional Maleman Sriwedari dan Malem Selikuran akhirnya jadi pengobat rasa lelah, selain perayaan Sekaten dan perayaan malam 1 Sura tentunya. Mereka menemukan sejumput kelegaan di sini.